Perlunya Pondasi Literasi Digital pada Anak Di Zaman Sekarang

Literasi digital diperlukan dalam penggunaan teknologi. Salah satu komponen dalam lingkungan belajar dan akademis yaitu literasi digital.

Penerapan literasi digital dapat membuat masyarakat jauh lebih bijak dalam menggunakan serta mengakses teknologi.

Dalam bidang teknologi, khususnya informasi dan komunikasi, literasi digital berkaitan dengan kemampuan penggunanya. Kemampuan untuk menggunakan teknologi sebijak mungkin demi menciptakan interaksi dan komunikasi yang positif.

Pengertian literasi digital

Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) karya Devri Suherdi, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya.

Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya.

Bagi Shafira Adlina, narablog yang concern pada dunia parenting, literasi digital tidak hanya memiliki kaitan erat dengan teknologi, tapi juga kemauan untuk belajar serta berpikir kritis, kreatif dan inovatif di dunia digital. Karena semuanya serba digital, tentu saja sangat penting juga mendukung teknologi dengan jaringan internet cepat Indihome dari Telkom Indonesia.

Untuk membangun pondasi literasi digital pada anak di zaman era teknologi saat ini, Shafira berbagai tips yang dapat dilakukan para orang tua. Berikut tipsnya.

1. Ajarkan Anak untuk Menahan Pandangan

Hal pertama yang patut dipegang bersama adalah mempersiapkan anak masuk ke dunia digital bukan berarti harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun, mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.

Prinsip yang harus ditekankan kepada anak-anak adalah mengajarkan mereka menahan pandangan, menjaga kemaluan. Sebab, jika otak anak rusak, kemaluannya tidak bisa dikendalikan. Jika orang tua tidak membicarakan hal tersebut, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap.

2. Membangun Komunikasi dengan Anak

Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah atau berkegiatan. Hal-hal kecil di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya. Dengan begitu, anak akan merasa didengarkan perasaannya. Bisa juga dengan bertanya tentang perasaan sang anak. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada orang tua tiap kali ia merasakan sesuatu.

Orang tua pun harus menyediakan alternatif lain ketika anak dibatasi dia pegang gadget. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya, ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak.

3. Menemani Anak Ketika Berselancar di Internet

Hal pertama yang bisa dilakukan ketika mengenalkan dunia internet pada anak adalah menemani mereka. Bagi anak-anak yang terlahir di dunia digital, memang tak mungkin tak mengenalkan sama sekali dengan dunia internet. Namun, bukan berarti orang tua memberikannya begitu saja gadget dan internet tanpa pijakan dan pengawasan.

Alasan meningkatkan sumber belajar dengan literasi digital itu sendiri juga perlu linear dengan pijakan orang tua kepadanya. Apalagi anak di bawah tujuh tahun yang belum sempurna perkembangan otaknya. Sudah selayaknya orang tua memang mendampingi dan mengawasi apa-apa saja yang diakses dan ditonton anak-anak.

“Saya sendiri suka sedih, jika menemukan anak-anak yang dibiarkan menonton YouTube, shorts, TikTok atau video-video portrait lainnya secara bebas. Terbayang konten yang tidak sesuai value dan budaya ketimuran dapat terekam di mata dan pikiran anak di bawah umur,” tutup Shafira.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *